Showing posts with label PENDIDIKAN. Show all posts
Showing posts with label PENDIDIKAN. Show all posts

Monday, July 14, 2014

Car Free Day Yang Edukatif

Oleh: Wawan Hariyanto
Akhir pekan merupakan saat yang paling tepat meregangkan otot-otot tubuh. Setelah seminggu penuh bekerja bahkan seringkali sampai malam, seseorang hendaknya mengistirahatkan badannya dengan aktivitas yang menyenangkan dan bisa me-refresh pikiran. Oleh karenanya, di berbagai tempat khususnya di Indonesia banyak diprogramkan adanya Hari Bebas Kendaraan Bermotor (car free day).
Penulis  pernah sesekali mendatangi alun-alun Kebumen di hari Minggu guna sekedar jalan-jalan dan mencari keunikan-keunikan yang ada di sana. Bersama teman seprofesi, penulis mengitari alun-alun dengan keramaian di kanan kiri. Keramaian itu bukan karena ada stand-stand khusus yang menampilkan performan mereka, melainkan warung-warung makan, bakul gaun dan mainan anak-anak di pinggir jalan.
Di akhir perjalanan, permainan topeng monyet berhasil ditonton sebagian besar orang tua dan anak-anak. Rasanya harapan-harapan penulis yang ingin menyaksikan keunikan dan kreatifitas para pemuda kota ini belum terlihat dengan nyata. Sebagian pemuda pemudi bahkan datang dan duduk hanya untuk sekedar menyantap sarapan minggu pagi.
Fenomena ini mungkin akan berbeda ketika kita menyaksikan car free day di Jakarta. Beberapa orang dengan kostum hitam yang sama dan membawa pedang samurai layaknya ninja, ikut juga meramaikan agenda weekend. Belum lagi kelompok-kelompok lain yang juga datang di hari menggembirakan itu. Ah, itu kan Jakarta. Jakarta kan kota besar, mana mungkin sama dengan kota Kebumen? Kata-kata ini mungkin dikatakan oleh sebagian orang untuk menyanggah argumen penulis. Bukankah manusia sudah dibekali akal oleh Tuhan untuk berfikir dan berkreatifitas. Kalau di kota besar bisa diadakan, tentunya di kota kecil di Jawa Tengah juga mampu berkompetisi.


Program Mingguan
            Untuk mewujudkan car free day yang lebih menggembirakan dan edukatif, maka turun tangan pemerintah daerah (pemda) sangatlah diperlukan. Menurut pandangan penulis, beberapa tujuan dari diadakannya car free day yaitu pertama; menambah silaturahmi. Dengan adanya car free day, maka warga bisa berbondong-bondong ke alun-alun dan bertemu dengan kerabat, teman maupun orang yang baru dikenal. Berkumpul dengan sahabat di tempat yang menggembirakan merupakan suasanya yang sangat dinanti-nantikan oleh setiap orang. Apalagi yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu, terpisah di kota lain dan jarang sekali berjumpa. Maka adanya car free day ini akan lebih mempererat tali silaturahim mereka.
            Tujuan kedua yaitu menggiatkan olah raga warga. Berbagai olah raga di alun-alun sangatlah beragam, mulai dari senam, lari, bersepeda, sepak bola dan lain-lain. Kegiatan ini sangatlah sulit terjadi, tatkala program car fre day tidak diadakan. Hal ini berarti program mingguan ini sangatlah baik dan perlu dikembangkan lagi di masa yang akan datang. Alangkah baik lagi apabila di alun-alun juga disediakan peralatan olah raga lengkap dan gratis oleh pemda. Keikutsertaan pemerintah secara langsung dalam car free day sungguh sangat diharapkan oleh masyarakat. Syukur-syukur bapak/Ibu bupati bisa hadir dan ikut meramaikannya. Betapa gembiranya rakyat yang dipimpin oleh pimpinan yang ramah dan suka berjumpa dengan mereka.
            Adapun tujuan ketiga dari diadakannya car free day yaitu memberikan pendidikan kepada warga (edukatif). Tujuan ketiga ini barangkali yang masih jarang kita temukan di kota kecil seperti Kebumen. Mendidik masyarakat adakalanya melalui media cetak, media massa maupun melalui pengajian-pengajian rutin. Namun yang penulis tawarkan pada pemda khususnya yaitu mendidik masyarakat melalui car free day. Bagaimana bisa? Mungkin ini ide yang kurang bagus atau malah sangat bagus. Seperti kita ketahui bahwasanya belajar dalam keadaan senang dan menyenangkan merupakan kegiatan yang sangat menggembirakan. Berkumpul bersama keluarga di alun-alun sambil membaca buku, surat kabar, majalah dan bacaan-bacaan cerita anak sungguh aktivitas yang diidam-idamkan.
            Dengan tercapainya tiga tujuan ini, tentunya akan menjadi ajang kreatifitas yang luar biasa bagi semua masyarakat. Di mana masyarakat berlomba-lomba dalam kompetisi sehat setiap minggunya. Pengunjung ingin mengetahui karya-karya unik buatan warga Kebumen asli yang bukan impor dari kota lain. Ketertarikan ini sangat mungkin menjadikan warga pribumi untuk selalu belajar, berusaha, dan berkarya dengan inspirasi-inspirasi cerdas masyarakat.
Car Free Day di Jepang
            Car free day ternyata tidak hanya diadakan di Indonesia saja. Mari kita sejenak melihat kondisi car free day yang ada di negara Sakura, Jepang. Car free day di Jepang dapat kita nikmati bersama tiap hari Minggu di Ginza, Tokyo. Di sana, saat berlangsung car free day, jalan-jalan kecil menuju jalan utama Ginza ditutup. Di tengah jalan-jalan itu lalu diletakkan bangku-bangku supaya warga bisa duduk santai di sana.
            Anak-anak kecil bisa bermain di tempat ini. Bukankah ini suasana yang menyejukkan hati? Belajar dari negara ini, bahwa pelaksanaan car free day hendaknya diprogram sesantai mungkin. Kalau memungkinkan, ajak warga untuk tidak menggunakan sepeda di jalanan area car free day. Warga diwajibkan berjalan kaki atau berlari-lari bagi yang berolahraga. Karena di tengah-tengah jalan banyak bangku dan meja bagi orang tua, maka dikhawatirkan akan membuat tidak nyaman.
            Sambil duduk-duduk di atas bangku, para pengunjung bisa menikmati minuman kesukaan mereka sambil baca buku-buku yang ringan. Kebiasaan ini di awalnya sepertinya sulit dilakukan, namun kalau belum dicoba maka selamanya pun tak akan berjalan. Perubahan-perubahan itu perlu. Kini saatnya mendidik masyarakat melalui kegiatan yang menyenangkan dan murah meriah tentunya. Dan car free day merupakan langkah yang sangat bagus untuk saat ini dan masa yang akan datang. Sekali lagi, peran pemerintah daerah sangat sangat diperlukan. Kebahagiaan masyarakat, kebahagiaan pemimpin juga.
Wawan Hariyanto, Pendidik di Kota Kebumen, Jawa Tengah.
HP. 081927557734

Sunday, January 15, 2012

Tahun Baru, Semangat Baru

            Tahun baru menjadi momen penting bagi setiap orang. Mulai dari usia anak-anak sampai dewasa, ikut merasakan kemeriahan akan datangnya tahun baru. Tidak sedikit dari teman dekat ataupun saudara yang jauh mengucapkan selamat tahun baru (Happy New Year) kepada kita. Baik itu melalui pesan singkat (Short Message Service), internet maupun langsung via telepon genggam (hand phone). Semua itu mereka lakukan karena rasa hormat, sayang, rindu, perhatian dan ekspresi lainnya yang mendekati pada rasa simpatik kepada seseorang.
            Tidak hanya ucapan selamat saja yang diungkapkan, akan tetapi teriring do’a kepada sang penerima semoga tahun yang akan datang lebih baik dari tahun sebelumnya. Inilah yang terpenting. Hal ini mengindikasikan bahwa ia berharap kita selalu dalam keadaan sehat walafiat dan sukses menjalani kehidupan ini. Lalu bagaimana reaksi kita setelah mendapat sesuatu yang surprise pada tahun baru? Pada dasarnya setiap orang akan merasakan ada sesuatu yang beda di hari yang istimewa itu. Bagaimana tidak? Seseorang yang sangat kita kagumi, hormati, dan taati selama ini—ia memberikan ucapan yang luar biasa.
            Disadari atau tidak, bahwa ucapan singkat itu sangat berpengaruh terhadap jiwa dan kepribadian kita. Diakui atau tidak, bahwa ucapan dan do’a yang dikirimkan kepada kita, menjadikan kita semakin kuat dan tegar dalam mengarungi arus kehidupan yang semakin deras. Pekerjaan yang begitu beratnya, menjadi semakin ringan berkat dukungan spiritual dari sahabat kita.
            Karunia ini sudah semestinya kita syukuri dengan segenap anggota badan, lisan, dan hati yang lapang. Semangat yang berkobar dan membara dalam jiwa patut kita ungkapkan dalam kenyataan. Kepada orang-orang terdekat kita, kebahagiaan dan keceriaan yang kita peroleh hendaknya dilisankan di dekat mereka. Setelah itu, apabila ada rejeki yang cukup—maka kita harus menyisihkan sebaian harta kita untuk membahagiakan hatinya. Dengan seulas senyuman tidaklah cukup.
            Untuk orang-orang yang kita sayangi dan kasihi, kita jangan sampai ketinggalan momen yang satu ini. Tahun baru hanya akan berulang setahun sekali. Belum tentu tahun baru yang akan datang, kita akan menjumpainya. Oleh karena itu, menyia-nyiakan kesempatan yang spesial ini—itu berarti kepedulian kita kepada sesama masih belum menagalami peningkatan. Padahal dengan kalimat yang sederhana dan do’a tulus yang kita tulis, barangkali bisa membukakan pintu hatinya untuk kita dan menyingkapkan segala rahasia yang masih terpendam dalam dirinya. Apabila silaturahmi yang sederhana ini sedikit demi sedikit kita perhatikan, niscaya kehidupan dalam persahabatan dan persaudaraan akan menjadi lebih harmonis dan romantis.
            Kita bisa menggunakan kata-kata berikut ini untuk orang-orang yang dekat dengan kita:”Saudaraku…..aku berharap di tahun baru besok engkau kan menjadi bintang dalam duniamu. Engkau kan bercahaya sesuai dengan duniamu. Dan engkau akan menemukan bintang yang engkau sukai sesuai dengan kesejukan dalam hatimu. Semoga cita-citamu menegakkan kalimah Allah  dan  membahagiakan orang tua dapat terwujud dengan pertolongan-Nya.”
            Semangat yang berkobar dalam hati saudara dan teman kita pastinya tak akan pernah padam selama silaturahim itu kita amalkan sepanjang hayat kita. Sekali lagi tahun baru akan menjadi sangat berkesan apabila kita menciptakan suasana tahun baru itu berbeda.
           

























Sisi Lain ‘Badge’ Sekolah

            Setiap sekolah pasti memiliki identitas tersendiri supaya bisa dikenal oleh masyarakat luas. Seperti halnya logo dan badge  sekolah yang biasanya menempel di sebelah kanan bahu seragam para siswa. Masyarakat akan langsung mengetahui asal seorang siswa hanya dari badge  yang dikenakan. Tentunya ada maksud dan tujuan dari pihak sekolah memasang nama sekolah pada seragam para siswa.
            Salah satu tujuannya yaitu supaya para siswa tidak berbuat semaunya sendiri di luar sekolah. Karena apabila mereka melakukan perbuatan yang mencemarkan nama baik sekolah, itu berarti mereka telah melanggar kode etik atau aturan sekolah. Oleh karenanya badge itu penting demi menjaga reputasi sekolah. Namun, apakah selama ini, badge yang bertuliskan identitas sekolah tertentu, masih dianggap penting bahkan sangat penting?
            Mari kita belajar kepada beberapa sekolah yang ada di Kota Yogyakarta. Ketika mereka mengenakan seragam putih abu-abu, sekilas kita akan membaca badge yang ada di sebelah bahu bertuliskan ‘Pelajar Kota Yogyakarta’. Dan bukan nama sekolah itu sendiri. Hal ini berarti, kebijakan dari pemerintah Kota Yogyakarta memang memberlakukan demikian. Bagaimana dengan sekolah lainnya? Baik di Yogyakarta maupun sekitarnya?
            Dengan diberlakukannya badge ‘Pelajar Kota Yogyakarta’ tersebut, paling tidak memberikan beberapa manfaat yang selama ini belum dirasakan oleh sekolah lainnya. Pertama, memberikan pembelajaran kepada para siswa bahwa mereka memiliki kesamaan yaitu sama-sama pelajar Kota Yogyakarta. Dengan demikian diantara para siswa akan timbul rasa saling hormat-menghormati dan menghargai. Sehingga persatuan dan kesatuan antar pelajar semakin terjalin. Kedua, memberikan pendidikan kepada para siswa untuk tidak saling curiga. Para siswa akan belajar bagaimana ia memposisikan dirinya sebagai pelajar yang memilki sopan santun dan akhlak yang mulia. Kecurigaan yang menimbulkan pertengkaran bahkan percekcokan pun diharapkan bisa terminimalisir.
            Ketiga, mengurangi tindakan asusila dan anarkis seperti halnya tawuran antar pelajar. Salah satu motif terjadinya tawuran antar pelajar tekadang hanya disebabkan masalah sepele namun dibesar-besarkan. Pengaruh badge yang dipakai sungguh luar biasa. Ketika salah seorang siswa melakukan kesalahan terhadap siswa sekolah lain, sudah barang tentu siswa yang merasa terdzolimi akan mengetahui asal siswa tersebut. Dan ini apabila diteruskan, bisa berlanjut pada tindakan tawuran yang sampai sekarang masih saja terjadi antar sekolah. Bahkan seolah-olah sekolah tertentu sudah menjadi musuh ‘bebuyutan’ sekolah lainnya.
            Pembelajaran yang sederhana ini, semakin membuka pikiran kita akan pentingnya etika saling menghormati dan menghargai. Sejak menjadi siswa sampai usia dewasa niscaya akan terdidik sebagai  insan yang pandai bertoleransi terhadap orang lain. Bukan malah sebaliknya, antar siswa terjadi percekcokan apalagi saling menaruh curiga karena perbedaan tempat pendidikan. Yang diharapkan bersama, baik pemerintah, sekolah, orang tua dan tentunya para siswa—generasi muda bangsa ini terdidik dengan pendidikan yang baik dan mencerdaskan. Menjadi generasi unggul yang akan menggantikan para pemimpin saat ini di masa yang akan datang.
            *Dimuat di SKH Kedaulatan Rakyat, 4 Jan 2012

Guru Sekaligus Motivator

        Hampir semua orang tahu apakah tugas seorang guru. Ya, benar sekali yaitu mengajar para siswa di sekolah. Namun apa jadinya kalau di sela-sela waktu libur sekolah, seorang guru juga memiliki aktivitas lain yakni menjadi motivator. Seorang motivator merupakan pemberi semangat terhadap orang lain yang mengalami penurunan motivasi dalam berbuat. Selain memberikan support belajar kepada para siswanya, seorang guru juga bisa menjadi motivator bagi dirinya maupun lingkungan sekitarnya.
            Belum lama ini penulis bersama dengan rekan guru yang sekarang sudah menjadi penulis handal, mengisi sebuah Training Jurnalistik di daerah Krapyak terkait menulis di media massa. Peserta yang berdatangan pun cukup banyak dari segi kuantitasnya, ditambah lagi antusias peserta dalam mengikuti training ini yang cukup besar. Pada sesion pertama penulis diberikan kesempatan berbicara mengenai motivasi menulis, dilanjutkan trik menjadi penulis handal dan terakhir tentang kriteria naskah yang dimuat di media massa. Sungguh training ini sangat bermanfaat bagi semua orang yang hadir dalam majlis tersebut.
            Menjadi guru sekaligus motivator sangatlah berkesan. Seorang guru memang sudah lazimnya berkecimpung dalam dunia tulis menulis, namun alangkah baiknya ia juga belajar mengenai tekhnik dan cara menulis itu sendiri. Bagaimanapun juga, orang lain ketika berkeinginan menulis—kita tidak dengan mudah hanya mengatakan :”Menulislah, menulislah dan menulislah. Tidaklah demikian, akan tetapi teori dalam hal ini bagaimana cara menuliskan judul yang bombastis (menarik pembaca) dan juga menuliskan kalimat dengan benar di awal kalimat sangatlah penting.
            Bagi guru yang sudah biasa menulis, boleh dikatakan tidak ada kendala yang begitu berarti, namun seyogyanya kebahagiaan kita sebisa mungkin ditularkan kepada orang lain dalam bentuk motivasi ataupun bimbingan singkat tentang menulis. Singkat kata, seorang guru sekaligus menjadi motivator sangatlah berpeluang besar. Tidak hanya dalam bidang literasi, namun bisa dalam bidang lainnya seperti motivator bisnis atau entrepreneur dan lain sebagainya. Niscaya kebahagiaan itu akan mengalir kepada kita selama kita mau berbagi dengan orang lain.

Bakar Diri, Siapa yang Rugi?

Demo merupakan aktivitas yang tidak asing lagi dalam dunia kampus. Apalagi seorang aktivis yang jiwanya selalu tersulut api amarah ketika ada kebijakan kampus atau pemerintah yang kurang sesuai dengan hati nuraninya. Ketika ia merasa didzolimi dan tersakiti, maka jiwa dan raganya seakan menjadi taruhannya. Namun, dengan kekuatan yang kecil, apakah demo itu benar-benar bisa berhasil mengetuk hati para praktisi atau pejabat pemerintahan?
Membakar diri merupakan tindakan yang meninggalkan bekas kesedihan dan kepiluan bagi yang ditinggalkan. Baik bagi rekan sejawatnya lebih-lebih keluarga yang telah membesarkannya. Rasa solidaritas terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) bukankah masih bisa diwujudkan dalam bentuk yang lain selain membakar diri alias bunuh diri. Karena membakar diri ini lebih banyak menyebabkan kerusakan dan kerugian diri sendiri serta keluarga. Semoga kita ingat akan sabda Rasulullah SAW terkait merubah kemungkaran yakni apabila salah satu diantara kalian melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya/kekuasaan yang dimiliki, bila tidak mampu maka dengan lisan, dalam hal ini bisa dengan tulisan (spanduk) dan terakhir dengan hati.  
*) Dimuat di koran Minggu Pagi Yogyakarta bulan Desember 2011

Tuesday, December 13, 2011

PENDIDIKAN RENANG KITA

Berenang merupakan salah satu aktivitas yang sarat manfaat bagi kesehatan.  Setiap orang tentunya tidak ingin hari-harinya hanya dipenuhi oleh pekerjaan yang menyibukannya dan seakan tidak ada waktu lagi untuk melenturkan tubuhnya. Renang menjadi salah satu alternatif olah raga yang sangat menyehatkan tanpa merasa letih yang berlebihan seperti halnya olah raga lainnya. Karena memang dari sisi tempat dan suasana yang sangat mendukung, kolam renang adalah tempat olah raga yang langsung berhubungan dengan sumber kehidupan yaitu air.
Sejauh ini, renang seakan dianggap sebagian orang sebagai olah raga yang kurang penting dan pokok. Terbukti, perlombaan dan kompetisi dalam cabang olah raga yang diadakan dalam beberapa kesempatan lebih banyak bertempat di darat atau tempat kering. Padahal semestinya tidak demikian, karena renang juga salah satu cabang olah raga yang dibutuhkan oleh setiap orang. Contoh sederhana ketika terjadi banjir yang mengharuskan kita menyelamatkan diri, berenang merupakan satu-satunya cara yang harus kita lakukan demi keselamatan jiwa kita.
Selain itu, kita juga bisa memanfaatkan keterampilan dan keahlian renang itu untuk menyelamatkan orang lain. Oleh karenanya, pendidikan renang di setiap sekolah sangatlah penting. Pendidikan ini tidak kalah penting dibandingkan dengan pendidikan olahraga lainnya. Bahkan olahraga ini tidak boleh disepelekan karena sangat berkaitan dengan keselamatan jiwa setiap orang. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) sampai perguruan tinggi—alangkah baiknya keterampilan renang ini dimiliki oleh setiap orang baik itu guru, siswa, maupun masyarakat pada umumnya.

MEMBUDAYAN SENAM DI SEKOLAH


Kesehatan merupakan salah satu aspek terpenting sebelum kita melakukan suatu aktivitas. Baik kesehatan jasmani maupun rohani, sebagai guru maupun siswa haruslah senantiasa menjaga kondisi tubuh supaya tetap sehat dan bugar. Selama seharian berada di sekolah atau di tempat kerja, pastilah rasa letih dan lelah dirasakan oleh setiap orang. Hal ini perlu didukung dengan kesehatan yang prima. Tergantung cara mereka menjaga kondisi tubuh agar tetap fit, masing-masing orang berbeda.
Dalam lingkungan sekolah, sebagian sekolah pasti sudah menjadwalkan adanya olahraga bagi siswa. Namun bagaimanakah dengan olahraga bagi guru ataupun karyawan? Sepertinya hal ini belum berjalan secara maksimal, padahal kebutuhan olah raga tidak hanya dibutuhkan seorang siswa akan tetapi para guru juga. Dengan berolahraga, niscaya badan selalu sehat, menguatkan tubuh, mengencangkan kulit, dan jauh dari penyakit.
Perhatian sekolah akan aktivitas olahraga idealnya tidak terabaikan, khususnya senam. Senam tidak ubahnya olahraga seperti lari atau bermain sepak bola. Senam bisa dilakukan hampir semua umur, mulai dari balita sampai orang tua. Program senam ini seyogyanya diadakan oleh setiap sekolah. Sebagai contoh tekhnis yaitu senam setiap hari jum’at atau sabtu pagi. Baik kepala sekolah, para guru, karyawan dan para siswa terjun ke lapangan dengan seragam olah raga.
Banyak manfaat yang bisa kita pelajari dalam aktivitas senam ini, antara lain menjaga kebugaran tubuh dan mempererat kerukunan semua elemen sekolah. Mari kita perhatikan wajah seseorang sebelum melakukan senam massal di lapangan sekolah, rata-rata mereka pasti menunjukkan muka yang cerah dan ceria. Bagaimana tidak, seorang guru yang melihat  siswanya bermuka cerah dan gembira  menjadikan guru tersebut terbawa kondisi yang menyenangkan dan rasa bangga tersendiri.
Bagaimakah dengan sekolah kita? Apakah para guru juga sudah mengagendakan jadwal senam bersama para siswa, kalau belum sepertinya perlu dievaluasi bersama. Kalau ada sebagian yang menyatakan, mana sempat mau olahraga apalagi senam? Orang tiap hari saja saat bekerja, itu sudah termasuk olah raga yaitu mengeluarkan keringat, buat apa olah raga lagi? Kalau ada yang berfikiran demikian sejatinya perlu dipikir ulang dengan memperhatikan berbagai segi.
Kita mungkin tidak akan langsung jatuh sakit kalau tidak olah raga. Kita masih bisa mengajar, mendidik, dan membimbing para siswa di sekolah. Memang tidak ada salahnya ungkapan tersebut, namun alangkah lebih baik lagi bila makanan bergizi yang kita konsumsi setiap hari dibarengi juga dengan olah raga. Salah satu alternatif yang bisa dilakukan di sekolah atau madrasah yaitu senam.
Saat ini, tiap guru bisa belajar senam sendiri bahkan menjadi instruktur senam. Media teknologi sudah cukup canggih, seseorang bisa belajar dari komputer dengan cara  memutar video senam yang tersedia. Diantara senam yang bisa dipilih yaitu senam irama ceria versi siswa maupun guru, senam SKJ dan senam pramuka. Ketiga senam tersebut bisa dengan mudah kita dapatkan pada era sekarang ini, sehingga tidak ada alasan untuk tidak bisa senam.
Terakhir, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Untuk hidup sehat tidaklah harus mahal bahkan gratis, salah satunya dengan senam. Marilah kita senantiasa membudayakan hidup sehat baik dengan olah raga atau senam yang rutin.

Sel Bukan Tempat Yang Tepat


Tawuran antar pelajar bukanlah berita baru dalam dunia pendidikan kita. Sejak dulu sampai sekarang ternyata belum ada jurus ampuh untuk mereda apalagi menghentikan sama sekali dalam kehidupan sekolah. Seakan solusi itu tidak diketemukan oleh para praktisi maupun pendidik yang berkecimpung di dalamnya. Memang sangat disayangkan apabila pendidikan kita selalu diwarnai dengan image-image negative yang sebenarnya tidak perlu terjadi.
Ironis bukan, di salah satu daerah negeri ini antar siswa saling tawuran setelah mengikrarkan tali persatuan dan kesatuan. Tapi ikrar ternyata tidak masuk dan merasuk ke dalam kalbu para siswa. Yang terjadi malah sebaliknya, perpecahan dan percekcokan antar pelajar. Padahal hanya karena bersenggolan saat menyanyikan sebuah lagu sambil berjoget—amarah pun tiba-tiba datang dan terjadilah apa yang dinamakan tawuran.
Kalau tawuran itu membudaya sepertti halnya korupsi yang terjadi di Negara kita, lalu bagaimana masa depan bangsa ini dengan generasi yang keadaannya seperti ini? Kita pastinya tidak ingin masa depan bangsa kita dipimpin oleh generasi yang di masa mudanya banyak membuat kerusakan dan menjatuhkan harga diri bangsa. Tawuran merupakan aib yang jelas dan nyata di sekeliling kita.
Tawuran yang sudah terjadi dan semoga tidak terulang lagi menjadi evaluasi bersama dan pelajaran bagi semua pihak. Untuk solusi kita serahkan ke sekolah masing-masing, dan memang alangkah baiknya kalau di setiap sekolah itu dibuat sebuah tata tertib atau peraturan terkait siswa yang tawuran lengkap dengan sanksinya. Kalau koruptor di negeri ini akhirnya masuk ke dalam bui setelah menjadi tersangka, lalu bagaimana dengan para siswa yang tertangkap basah melakukan aksi tawuran?
Sel bukanlah tempat yang tepat untuk mereka, karena pendidikan dan ketrampilan bagi mereka lebih penting daripada masuk ke sana. Di sekolah pun tidak perlu dibuat sel seperti halnya di kepolisian. Akhirnya, perhatian sekolah kiranya perlu ditingkatkan lagi baik melalui peraturan yang sudah ada maupun penegakkan aturan itu sendiri.