Oleh : Wawan Hariyanto, S.Pd.I
Suasana penuh semangat dan khidmat menyelimuti Grand Ballroom Hotel Atria Magelang pada hari Kamis, 2 Juli 2026. Hari itu, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provinsi Jawa Tengah menggelar agenda krusial: Seleksi Calon Pendamping Mustahik Zakat Produktif Berbasis Majelis Taklim.
Kabupaten Kebumen mengirimkan delegasi terbaiknya, terdiri dari 21 orang Penyuluh Agama Islam yang siap mendedikasikan diri untuk program mulia ini. Mengenakan seragam batik hijau bercorak kuning yang serasi, para penyuluh tampak kompak dan penuh percaya diri saat mengabadikan momen di depan panggung utama. Salah satu di antara barisan pejuang zakat ini adalah Bapak Wawan Hariyanto, S.Pd.I, Penyuluh Agama Islam andalan dari KUA Alian.
Misi Mulia di Balik Seleksi
Acara seleksi berlangsung intensif dan produktif mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WIB. Tugas yang menanti para peserta yang lolos nanti tidaklah ringan namun sangat mulia. Mereka akan diterjunkan langsung untuk mendampingi para mustahik (penerima zakat) produktif, khususnya para pelaku usaha mikro yang berbasis di Majelis Taklim.
Visi Utama: Melalui pendampingan yang intensif dan berkelanjutan, diharapkan roda ekonomi para mustahik dapat berputar lebih cepat, hingga kelak status mereka bertransformasi: dari yang semula menerima zakat (mustahik), naik kelas menjadi pemberi zakat (muzakki).
Perjalanan Penuh Kebersamaan dan Berkah
Perjalanan dari Kebumen menuju Magelang pun menjadi cerita tersendiri yang mempererat silaturahmi. Sebagian besar rombongan bertolak menggunakan mobil Elf Long yang akrab menampung sekitar 18 orang, sementara sebagian lainnya mengendarai mobil pribadi. Rasa lelah di perjalanan sama sekali tidak melunturkan antusiasme. Ada rasa syukur yang mendalam karena berkesempatan mengikuti seleksi di luar kota dan membawa nama baik daerah.
Tak berhenti pada urusan duniawi, usai acara resmi ditutup pada siang hari, rombongan Kebumen melanjutkan perjalanan ke arah Muntilan untuk melakukan ziarah ke Makam Gunung Pring. Di sana, mereka melantunkan doa di pusara ulama besar, Kyai Raden Santri. Perjalanan ini pun ditutup dengan sempurna—memadukan ikhtiar lahiriah untuk kemaslahatan umat dengan ketukan batiniah mengharap keberkahan dari Sang Pencipta.
Comments
Post a Comment